kader partai pan
Reflekasi Harkitnas Oleh : M. Hasbullah Rahmad-Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat-Plt Ketua DPW PAN Jawa Barat
Reflekasi Harkitnas Oleh : M. Hasbullah Rahmad

Reflekasi Harkitnas  Oleh : M. Hasbullah Rahmad-Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat-Plt Ketua DPW PAN Jawa Barat

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional kita laksanakan tiap tahun. Sudah 109 tahun peristiwa kelahiran Budi Utomo yang telah “dimitoskan” sebagai awal dari “Kebangkitan Nasional” itu terjadi.

Dalam perjalanan yang panjang itu harapan baru, impian baru, malah juga keprihatinan baru pun muncul dan tumbuh.

Konteks struktural telah berlainan. Tantangan zaman pun telah berbeda. Kemerdekaan ternyata bukanlah akhir dari sebuah kisah “Kebangkitan Nasional” tapi justru awal dari cerita yang baru.

Pudarnya Rasa Nasionalisme

Hari ini kita bisa menyaksikan betapa banyak generasi bangsa yang telah melupakan semangat dan pengorbanan para pejuang merebut kemerdekaan. Rasa Nasionalisme rendah membuat mereka mudah “terkotakan”.

Fenomena tawuran antar pelajar menjadi salah satu contoh betapa generasi bangsa ini sedang mengidap penyakit “ego kekotakan”, cinta terhadap kelompoknya dan mengiraukan kepentingan umum. Mereka rela mengorbankan darah sesama anak bangsa hanya untuk kepentingan kelompok dan golongannya. Kita mungkin masih ingat tawuran antarpelajar di Bekasi bulan maret 2017 antara siswa SMK Bina Insan Kamil dengan  SMK Abdi Karya yang
memakan korban meninggal. Tawuran juga terjadi antar Pelajar dari Smk Tridaya Cibinong dengan Smk Muhamadiyyah Babakan Cileungsi Bogor.

Sikap ego dan fanatisme kelompok bukan hanya terjadi ditengah pelajar tetapi juga masuk pada lintas generasi bangsa ini.

Kurangnya rasa nasionalisme dan kebangsaan menjadi satu di antara masalah yang melatarbelakangi maraknya tawuran dan kekerasan yang terjadi .

Diantara penyebab memudarnya semangat nasionalisme dan kebangsaan disebabkan contoh yang salah dan kurang mendidik yang diperlihatkan generasi tua atau kaum tua yang cenderung mementingkan kepentingan pribadi dangolongannya daripada mendahulukan kepentingan bangsa dan rakyat. Kaum tua juga tidak memberikan contoh sikap disiplin dan tanggungjawab.

Selain itu, mengutip pendapat Zulkifli Hasan (Katum PAN) bahwa kerapuhan ini disebabkan oleh kesenjangan ekonomi dan sosial yang semakin memprihatinkan.

Menurutnya, beberapa kasus kesenjangan paling nyata terlihat dari kasus penguasaan lahan dan sumber daya alam serta peningkatan volume impor. Aktivitas impor pun telah merambah ke kebutuhan pokok, seperti padi, bawang, jagung kedelai, dan garam. Petani kita tak punya lahan dan pekerjaan. Mereka juga tak memiliki keterampilan dan pengetahuan.

Kita “Belum Merdeka”

Selain masih rendahnya rasa nasionalisme juga masih banyaknya masyarakat yang ternyata belum “merdeka” dari belenggu buta huruf dan kemiskinan . Kita bisa menyaksikan masih banyak mereka yang belum bisa baca tulis. Bahkan menurut data tingkat buat aksara di Jawa Barat rupanya sangat tinggi.

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
tahun 2015, dari 5,9‎ juta penduduk Indonesia yang buta aksara, 604.378 penduduk Jawa Barat.

Yah, Jawa Barat menjadi salah satu provinsi yang masih tinggi buta aksaranya. Berbicara buta aksara tidak bisa dipisahkan dengan masalah ekonomi, buta aksara itu selalu nempel dengan kemiskinan.

Harus diakuin, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat  tahun 2016 mencapai  5,67 persen atau berada di atas  pertumbuhan  ekonomi nasional sebesar 5,02 persen. Dengan begitu angka kemiskinan Jawa Barat  juga lebih rendah dari angka kemiskinan nasional, yakni sebesar  11,13 persen  pada tahun 2015 dan 10,70 persen tahun 2016. Namun,  secara absolut  jumlah penduduk miskin di Jabar  masih cukup besar, mencapai  4 juta jiwa.

Maka untuk melerai persoanalan kemiskinan tersebut pemerintah harus meningkatkan daya saing sumber daya manusia, meningkatkan  produktivitas dan kualitas produksi.

Hemat saya harus dikembangkan dengan masif kegiatan ekonomi berdasarkan pada kreativitas,
keterampilan dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta
individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat.

Selama ini sektor ekonomi kreatif seakan luput dari perhatian
masyarakat sehingga belum digarap secara optimal. Padahal kalau digarap dengan
baik maka tidak tertutup kemungkinan sektor ekonomi kreatif itu dapat menjadi
salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional menjadi momentum untuk kita semua masuk dalam lorong waktu sejarah, “melihat” fakta sejarah akan semangat dan pengorbanan para pejuang untuk pertiwi.

Semangat para pahlawan harus mampu kita hadirkan “disini” dan “saat ini” untuk bersama-sama mengusir sikap egoisme, fanatisme, mementingkan kelompok untuk “memerdekan masyarakat” dari kemiskinan yang pada akhirnya melahirkan kesejajteraan masyarakat.

Kierkegaard, sang filosof benar juga ketika dia berkata, “hidup dilalui kedepan tetapi dipahami kebelakang”. Dalam kesadara ini, maka usaha penyesuaian diri dengan situasi masa depan mengharuskan kita untuk melihat masa lalu, masa dimana semangat perjuangan dan pengorbanan para pahlawan yang rela mati untuk bangsa Indonesia.

SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL 20 MEI 2017